Apa yang dikorbankan
أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Mereka itu akan diberi ganjaran mereka dua kali, karena mereka telah bersabar dan mereka menolak keburukan dengan kebaikan, dan dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka, mereka belanjakan. [Al Qashash 28:54]
Berkorban bisa dalam bentuk apapun, pada prinsipnya ada sesuatu yang dikorbankan, bisa berupa harta, waktu, kehormatan, keluarga bahkan nyawa sekalipun. Tetapi adakalanya itu semua terasa berat untuk kita korbankan. Maka dalam kondisi ini, bukan kita yang memiliki harta tetapi hartalah yang memiliki kita, sehingga menjadi budaknya. Sebenarnya apa yang menyebabkan perasaan ini timbul?
Ketika seseorang berkorban, pada hakikatnya bukanlah harta, waktu, kehormatan atau nyawa yang kita korbankan, tetapi “rasa memiliki” lah yang sedang dikorbankan. Segala sesuatu adalah milik Allah swt dan akan kembali kepada Nya, tetapi karena begitu kuat “rasa memiliki”, hal itu menjadi penghalang untuk melihat Tuhan sebagai sang Pemilik Sejati. Jika kita telah mampu menyerahkan semua yang “merasa kita miliki” kepada Tuhan yang memiliki segalanya, maka dalam kondisi ini ia mencapai derajat “fana fillah” dan berhasil menyentuh makna “laa ilaaha illallah”. Tentunya hal ini harus disertai dengan keikhlasan, cirinya adalah adanya kebahagiaan, tidak merasakan beban, yang ada hanya kenikmatan yang membuatnya ketagihan dan semakin semangat dalam mencintai Tuhan. Kondisi ini akan membawa seorang hamba pada ruh tertinggi keikhlasan pengorbanan dalam mencintai Tuhan yaitu “Inna lillaahi wainna ilaihi raji’un”.
Hazrat Khalifatul Masih II ra bersabda,” … Kelebihan yang kedua dijelaskan bahwa وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ Apapun yang kami berikan kepada mereka, kami belajakan sebagiannya. Yakni nikmat apapun yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya, mereka belanjakan untuk kemaslahatan dan kemakmuran umat manusia, mereka tidak hanya membelanjakan rupiahnya untuk fakir miskin, tapi apapun yang Kami berikan kepada mereka, mereka selalu belanjakan satu bagiannya untuk orang lain. Didalam bahasa Arab rizq artinya segala sesuatu anugerah Allah Ta’ala, sebagaimana harta juga termasuk kedalam rizq, ilmu dan kekuatan juga, rizq yang berarti biji-bijian, itupun termasuk kedalam rizq. Waktu juga termasuk kedalam rizq. Maksudnya rizq adalah segala sesuatu yang memberikan faidah bagi manusia dalam corak apapun. Dengan mengatakan وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ditekankan bahwa apapun yang Allah Ta’ala berikan, hendaknya dibelanjakan untuk kemaslahatan manusia.
BENTUK-BENTUK PENGORBANAN HARTA DALAM ISLAM
Perlulah kita ingat bahwa ketika kita mati ada tiga hal yang akan mengiringi kita kekuburan yaitu harta, keluarga dan amal kita, tetapi yang dua pertama akan kembali kerumah sedang yang menyertai kita hanya yang ketiga yaitu amal perbuatan (pengorbanan) kita. Pengorbanan merupakan salah satu bentuk amal yang akan menyertai dan menyalamatkan kita di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar